IDENTIFIKASI TUGAS INDIVIDU MEDIA KELAS MANDIRI DAN REGULER…

NAMA-NAMA YANG BLOGNYA BERMASALAH:HENI PUSPITA SARI; LAILI HIJAYAHNTI; ANDRI OKTVNS; DINA PUTRI JUNI; HAYATUN NUPUS; INDAH CITRA; RENY FARIDA; TITIS SRI; WIWIET DAMAI; JUNITA EKAWATI; RILLA ARYA DUTA; RISKA MEGA; TESSA JESIKA; YESITA SARI; TATI AFNA….
NAMA-NAMA YANG BLOGNYA BLM ADA/KOSONG/BELUM KOMENTAR:
WELTI; DORES; NATALIDO; VERRY; ARIS KUSAI; ATMANDA; AWANG; DEBBY; FERI HERYANTO;
GRIFTIA; KAMELIA; LIA SUSANTI;LILISL; PITARZAN; RIKI MARANTIKA; SUSIANTI;
BPK TUNGGU SD TGL 11 JUNI 2010

Comments (8) »

MOHON PERHATIAN: HASIL TUGAS BLOG WORDPRESS KELAS MANDIRI DAN REGULER PBI JPBS FKIP UNIB

NAMA-NAMA YANG BLOGNYA BERMASALAH:HENI PUSPITA SARI; LAILI HIJAYAHNTI; ANDRI OKTVNS; DINA PUTRI JUNI; HAYATUN NUPUS; INDAH CITRA; RENY FARIDA; TITIS SRI; WIWIET DAMAI; JUNITA EKAWATI; RILLA ARYA DUTA; RISKA MEGA; TESSA JESIKA; YESITA SARI; TATI AFNA….
NAMA-NAMA YANG BLOGNYA BLM ADA/KOSONG/BELUM KOMENTAR:
WELTI; DORES; NATALIDO; VERRY; ARIS KUSAI; ATMANDA; AWANG; DEBBY; FERI HERYANTO;
GRIFTIA; KAMELIA; LIA SUSANTI;LILISL; PITARZAN; RIKI MARANTIKA; SUSIANTI;

Comments (3) »

Tulislah blog Anda di bawah ini! Jangan lupa menuliskan identitas Anda, KD, dan SK-nya!

Comments (128) »

MENGORGANISASI INFORMASI DENGAN PETA KONSEP DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN TUTORIAL

MENGORGANISASI INFORMASI DENGAN PETA KONSEP DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN TUTORIAL1

Oleh

Arono2

FKIP Universitas Bengkulu

ABSTRAK

Mengorganisasi informasi melalui peta konsep dapat meningkatkan kualitas pembelajaran tutorial. Tujuan penulisan makalah ini untuk mengungkapkan organisasi informasi peta konsep dalam meningkatkan kualitas pembelajaran tutorial. Penulisan makalah ini menggunakan metode studi pustaka, observasi, dan kontent analisis. Hasil makalah ini menunjukkan bahwa mengorganisasi informasi melalui peta konsep untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tutorial dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi esensi konseptual materi, menulis konsep utama, menentukan konsep pendukung, menghubungan semua konsep pendukung dengan garis, menilai peta konsep, dan menggunakan penekanan tertentu. Adapun manfaat peta konsep dalam meningkatkan kualitas pembelajaran tutorial, yaitu fleksibel, memusatkan perhatian, meningkatkan pemahaman, dan pembelajaran akan menyenangkan.

Kata Kunci: mengorsanisasi informasi; peta konsep; kualitas pembelajaran

I. PENDAHULUAN

Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Pada sistem pendidikan pelatihan ini tenaga pengajar dan peserta didik tidak harus berada dalam lingkungan geografi yang sama.

1Makalah disampaikan pada Seminar Nasional UPJJ UT Bengkulu

2Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu

Tujuan dari pembangunan sistem ini antara lain menerapkan aplikasi-aplikasi pendidikan jarak jauh berbasis web pada situs-situs pendidikan jarak jauh yang dikembangkan di lingkungan di Indonesia yakni bekerja dengan sama mitra-mitra lainnya. Secara sederaha dipahami sistem ini terdiri dari kumpulan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam kegiatan pendidikan jarak jauh hingga penyampaian materi pendidikan jarak jauh tersebut dapat dilakukan dengan baik. Sarana penunjang dari pendidikan jarak jauh ini adalah teknologi informasi. Kemunculan teknologi informasi dan komunikasi pada pendidikan jarak jauh ini sangat membantu sekali. Seperti dapat dilihat, dengan munculnya berbagai pendidikan secara online, baik pendidikan formal atau non-formal, dengan menggunakan fasilitas Internet.

Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh ditunjang oleh adanya interaksi dan komunikasi yang efektif dan maksimal antara intstruktur (dosen) dan mahasiswa, interaksi antara mahasiswa dengan berbagai fasilitas pendidikan seperti mudul-modul pendidikan interaksi antara mahasiswa dengan ‘orang-orang’ sekitarnya, dan adanya pola pendidikan aktif dalam masing-masing interaksi tersebut. Juga keaktifan dan kemandirian mahasiswa dalam pendalaman materi, mengerjakan soal-soal ujian, dan kreativitas mencari materi-materi penunjang dari sumber-sumber lain seperti internet atau digital-library. Pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Pemisah dapat pula jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam peningkatak kualitas pembelajaran mahasiswa, yaitu dengan pemanfaatan peta konsep dalam setiap pemahaman modulnya.

II. PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Tutorial Sebagai Sistem Pendidikan Jarak Jauh

Sistem pendidikan jarak jauh adalah metode pengajaran yang aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Sebagian besar karena siswa bertempat tinggal jauh atau terpisah dari lokasi lembaga pendidikan. Sebagian karena alasan sibuk sehingga siswa yang tinggalnya dekat dari lokasi lembaga pendidikan tidak dapat mengikuti proses pembelajaran di lembaga tersebut. Keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Sistem pendidikan jarak jauh merupakan suatu alternatif pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat beberapa diantaranya; keterbatasan tenaga pengajar, jarak antara lembaga pendidikan dan siswa yang berjauhan, kelangkaan pengajar berkualitas, dan lain lain.

Di beberapa negara maju, pendidikan jarak jauh merupakan alternatif pendidikan yang cukup digemari. Sistem pendidikan ini diikuti oleh para anak-anak, siswa, karyawan, eksekutif, bahkan ibu rumah tangga dan orang lanjut usia (pensiunan). Beberapa tahun yang lalu, hampir semua sistem pendidikan jarak jauh dilakukan dengan surat menyurat, atau dilengkapi dengan materi audio dan video. Tapi, saat ini hampir semua sistem pendidikan jarak jauh atau distance learning khususnya di Amerika, Australia, dan Eropa berbasis pada web atau teknologi informasi dan dapat diakses melalui internet. Hasil survei di Amerika, menyatakan bahwa computer based distance-learning sangat efektif, memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% waktu lebih singkat, dan 30% biaya lebih murah. Bank Dunia (World bank) pada tahun 1997 telah mengumumkan program Global Distance Learning Network (GDLN) yang memiliki mitra disebanyak 80 negara di seluruh dunia (sampai dengan Juni 2000, pusat yang beroperasi baru 15 negara, dan 5 diantaranya di Asia tetapi belum di Indonesia). Melalui GDLN ini maka World Bank dapat memberikan e-learning kepada mahasiswa 5 kali lebih banyak dengan biaya 31% lebih murah.

Sebagaimana sistem pendidikan langsung atau konvensional, sistem pendidikan jarak jauh juga membutuhkan sarana prasarana penunjang pendidikan, agar tujuan umum pendidikan bisa diwujukan sesuai dengan jenjang pendidikannya. Sarana penunjang biasanya berupa modul-modul pelajaran yang dikirim kepada siswa. Sarana bisa juga berbasis teknologi informasi. Munculnya teknologi informasi dan komunikasi pada pendidikan jarak jauh ini sangat membantu sekali. Seperti dapat dilihat, dengan munculnya berbagai pendidikan secara online atau web-school atau cyber-school, dengan menggunakan fasilitas internet. Pendekatan sistem pengajaran yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengajaran secara langsung (real time) ataupun dengan cara menggunakan sistem sebagai tempat pemusatan pengetahuan (knowledge). Hal ini memungkinkan terbentuknya kesempatan bagi siapa saja untuk mengikuti berbagai jenjang pendidikan sejak taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT).

Tidak seperti sistem pendidikan langsung, sistem pendidikan jarak jauh membutuhkan pengelolaan dan manajemen pendidikan yang “khusus”, baik dari sisi siswa maupun instruktur (dosen) agar tujuan pendidikan bisa terwujud. Pendidikan harus fokus pada kebutuhan instruksional siswa. Dari sisi instruktur (dosen), beberapa faktor yang penting untuk keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh adalah perhatian, percaya diri dosen, pengalaman, mudah menggunakan peralatan, kreatifitas, active learning, dan kemampuan menjalin interkasi dan komunikasi jarak jauh dengan siswa. Juga memperhatikan hambatan teknis yang mungkin terjadi, sehingga pendidikan jarak jauh bisa berlangsung efektif.

Dari sisi mahasiswa, salah satu faktor yang penting adalah keseriusan mengikuti proses belajar mengajar di saat instruktur (dosen) tidak berhadapan langsung dengan siswa. Pada level ini, keterlibatan dan kehadiran ‘orang-orang’ di sekitar, termasuk anggota keluarga memegang peranan penting dan strategis. Kehadirannya bisa mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar secara efektif, tapi sebaliknya bisa juga menjadi penghambat. Faktor yang lainnya adalah active learning dan komunikasi yang efektif. Partisipasi aktif mahasiswa pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari.

Pendekatan sistem pengajaran yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengajaran secara langsung (real time) ataupun dengan cara menggunakan sistem sebagai tempat pemusatan pengetahuan (knowledge).Hal ini memungkinkan terbentuknya kesempatan bagi siapa saja untuk mengikuti berbagai jenjang pendidikan. Seorang lulusan sarjana dapat melanjutkan ke pendidikan magister secara online ke salah satu perguruan tinggi yang diminatinya.  Pada zaman ini banyak orang berbicara Distance Education atau pendidikan jarak jauh. Ciri-ciri dari distance learning (DL) antara lain adalah : a) Sistem pendidikan yang pelaksanaannya memisahkan dosen dan mahasiswa. Mereka terpisahkan karena faktor jarak, waktu, atau kombinasi dari keduanya; b) Karena dosen dan mahasiswa terpisahkan, maka penyampaian bahan ajar dilaksanakan dengan bantuan media-e-learning, seperti media cetak, media elektronik (audio, video), atau komputer dengan segala keunggulan yang dimilikinya; c) Bahan ajarnya bersifat “mandiri”. Untuk e-learning atau on-line course bahan ajarnya disimpan dan disajikan di komputer; d) Komunikasinya dua arah, baik yang disampaikan secara langsung (synchronuous) maupun secara tidak langsung (asynchronuous); e) Sistem pembelajarannya dilakukan secara sistemik (terstruktur), teratur dalam kurun waktu tertentu. Kadang-kadang juga dilakukan pertemuan antara dosen dan mahasiswa, entah dalam forum diskusi, tutorial, atau dengan pertemuan tatap muka (“residential class”). Namun, pertemuan tatap muka tidak boleh mendominasi pelaksanaan pendidikan; f) Paradigma baru yang terjadi dalam DL adalah peran dosen yang lebih bersifat “fasilitator” dan mahasiswa sebagai “peserta aktif” dalam proses belajar-mengajar. Karena itu, dosen dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan bahan ajar yang menarik, sementara mahasiswa dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar.

Dalam banyak kasus, hasil DL ini cukup membanggakan dan tidak kalah dengan hasil pendidikan tatap muka. Tentu saja kalau DL tersebut dilaksanakan secara baik dan benar. Sebaliknya, masalah yang sering dihadapi dalam pelaksanaan DL umumnya adalah kurang tersedianya infrastruktur dan sumber daya pendukungnya, kurang siapnya SDM yang terlibat (baik dosen, mahasiswa maupun teknisi), cara penyampaiannya yang tidak memerhatikan kaidah-kaidah DL dan kurang atau tidak adanya dukungan kebijakan.

Di samping itu, masyarakat juga sering punya persepsi yang keliru tentang DL. Misalnya, kualitasnya kurang menjamin, biayanya mahal, tidak diakreditasi oleh pemerintah, tidak asyik karena tidak ada interaksi antara mahasiswa dan mahasiswa atau mahasiswa dan dosen. Hal seperti ini mestinya tidak perlu terjadi kalau mereka mengerti dan kalau DL itu dilaksanakan secara baik dan benar. Dalam banyak kenyataan, jarang sekali ditemui DL yang seluruh proses belajar-mengajarnya dilaksanakan dengan e-learning atau on-line learning. Untuk memperkecil kritik terhadap DL, maka blended DL (campuran antara on-line course dan tatap muka) adalah solusinya. Juga dalam blended DL ini tidak juga perlu membentuk lembaga pendidikan sendiri, seperti universitas terbuka, tetapi cukup membuat unit yang khusus menangani blended DL ini. Dengan demikian, pelajaran yang dilakukan secara on-line learning dapat hanya satu atau beberapa saja: tutorialnya saja, satu program studi saja, dan sebagainya. Pengalaman negara lain dan juga pengalaman distance learning di Indonesia ternyata menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain: Mampu meningkatkan pemerataan pendidikan; Mengurangi angka putus sekolah atau putus kuliah atau putus sekolah; Meningkatkan prestasi belajar; Meningkatkan kehadiran mahasiswa di kelas, Meningkatkan rasa percaya diri; Meningkatkan wawasan (outward looking); Mengatasi kekurangan tenaga pendidikan; dan Meningkatkan efisiensi.
B. Peta Konsep dalam Pembelajaran

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui mahasiswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif mahasiswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan dosen untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para mahasiswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (dalam Dahar, 1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki mahasiswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

Pengertian konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol (dalam Kardi, 1997:2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu, serta mengabaikan elemen yang lain. Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para mahasiswa. Oleh karena itu, konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus, konsep-konsep itu tidak dapat diamati, dan harus disimpulkan dari perilaku.

Konsep juga merupakan dasar untuk berpikir, untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar. Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).

George Posner dan Alan Rudnitsky (dalam Nur, 2001b:36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Dalam menghubungkan konsep-konsep itu dapat digunakan dua prinsip, yaitu diferensiasi progresif dan penyesuaian integratif. Menurut Ausubel (dalam Sutowijoyo, 2002:26) diferensiasi progresif adalah suatu prinsip penyajian materi dari materi yang sulit dipahami. Sedang penyesuaian integratif adalah suatu prinsip pengintegrasian informasi baru dengan informasi lama yang telah dipelajari sebelumnya. Oleh karena itu, belajar bermakna lebih mudah berlangsung jika konsep-konsep baru dikaitkan dengan konsep yang inklusif.

Untuk membuat suatu peta konsep, mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis. Kadang-kadang peta konsep merupakan diagram hirarki, kadang peta konsep itu memfokus pada hubungan sebab akibat. Agar pemahaman terhadap peta konsep lebih jelas, Dahar (1988:153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:1) Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep mahasiswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna. 2) Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.
3) Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.
4) Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu dosen untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki mahasiswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual dosen sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi mahasiswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

C. Cara Menyususn Peta Konsep

Penggunaan media petakonsep di dalam pendidikan sudah dilakukan sejak tahun 1977, yaitu dalam pengajaran Biologi (Novak, 1977), dan sejak itu media peta konsep berkembang dan telah dipergunakan dalam pembelajaran sain. Media peta konsep bertujuan untuk membangun pengetahuan mahasiswa dalam belajar secara sistematis, yaitu sebagai  teknik untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penguasaan konsep belajar dan pemecahan masalah (Pandley, dkk. 1994). Peta konsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah pemahaman suatu topik pelajaran. Langkah yang dilakukan dalam inovasi model pembelajaran peta konsep adalah memikirkan apa yang menjadi pusat topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep inti dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, dan pada akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Situmorang,dkk. 2000).

Belajar akan mempunyai kebermaknaan yang tinggi dengan menjelaskan hubungan antara konsep-konsep (Dahar, 1989:132). Berarti konsep dapat dipahami melalui hubungan atau interaksinya dengan konsep yang lain. Salah satu cara untuk menjelaskan menjelaskan dan mengaitkan hubungan antara konsep-konsep adalah peta konsep. Media peta konsep merupakan media pendidikan yang dapat menunjukkan konsep ilmu yang sistematis, yaitu dimulai dari inti permasalahan sampai pada bagian pendukung yang mempunyai hubungan satu dengan lainnya, sehingga dapat membentuk pengetahuan dan mempermudah  pemahaman suatu topik pelajaran (Pandley, dkk 1994). Langkah yang dilakukan dalam membuat media peta konsep adalah memikirkan apa yang menjadi pusat topik yang akan diajarkan, yaitu sesuatu yang dianggap sebagai konsep inti dimana konsep-konsep pendukung lain dapat diorganisasikan terhadap konsep inti, kemudian menuliskan kata, peristilahan dan rumus yang memiliki arti, yaitu yang mempunyai hubungan dengan konsep inti, sehingga pada akhirnya membentuk satu peta hubungan integral dan saling terkait antara konsep atas-bawah-samping (Nakhleh, 1994). Seperti beberapa model peta konsep yang bisa kita modifikasi sesuai dengan kebutuhan berikut ini.

Cara belajar menggunakan bantuan peta konsep merupakan cara untuk meningkatkan hasil belajar (Novak dan Growing dalam Nakhleh, 1996). Selain itu, peta konsep dapat membantu mahasiswa untuk memahami materi pelajaran yang diperoleh karena tidak hanya sekadar hafalan, melainkan betul-betul mengidentifikasikan konsep yang diperoleh (Novak dalam Domin, 11996). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa peta konsep menyediakan skema-skema untuk menganalisis stimulus-stimulus baru, dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. Belajar peta konsep merupakan hasil utama pendidikan. Peta konsep merupakan batu-batu pembangun (building blocks) berpikir. Peta konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Penggunaan media peta konsep dalam pendidikan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 saat mengajarkan pokok bahasan sistematika dalam mata pelajaran biologi (Novak dalam Pandley, 1977). Beberapa penelitian penggunaan peta konsep dalam pelajaran kimia juga telah dilakukan (Padley, dkk. 1997; Nakhleh, 1994). Efektifitas media peta konsep dalam pengajaran di  sekolah menegah umum di Sumatera Utara telah dijelaskan (Situmorang, dkk.2001 dan Purba, dkk. 1997). Penelitian dilakukan terhadap mahasiswa kelas satu SMU dengan melakukan menggunakan  metode peta konsep dan metode ceramah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran menggunakan metode peta konsep dapat meningkatakan penguasaan siswa terhadap materi kimia memotivasi siswa belajar lebih sistematis dalam  pemecahan masalah kimia. Walaupun metode peta konsep telah banyak digunakan untuk bidang eksakta, akan tetapi media pendidikan ini masih sedikit digunakan dalam pengajaran matematika. Untuk mengetahui bahwa penggunaan media peta konsep efektif dalam meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada materi pangkat rasional dan bentuk akar, penelitian telah diadakan dengan pengajaran materi pangkat rasional dan bentuk akar di SMU.

Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil tes dilakukan langkah-langkah meliputi: tingkat penguasaan, ketuntasan belajar, dan ketercapaian TPK. Tingkat penguasaaan mahasiswa pada materi pangkat rasional dan bentuk akar. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan mahasiswa terhadap materi tersebut adalah dengan menggunakan konversi lima atau skala lima norma absolut (Nurkancana, 1986). Ketuntasan belajar dinyatakan apabila mahasiswa telah mencapai skor 65% dan suatu kelas telah tuntas belajar bila 85% yang mencapai daya serap 65%, sedangkan ketercapaian TPK dikatakan telah tuntas apabila 70% dari TPK yang telah ada dan telah tuntas diajarkan. (Depdikbud, Erdawati, 2000).

Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu, mahasiswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa mahasiswa telah belajar bermakna seperti pada contoh peta konsep Pembelajaran IPA di SD berikut ini.

Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.

Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.

Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama.

Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut

Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut: 1)Memilih suatu bahan bacaan 2)Menentukan konsep-konsep yang relevan 3)Mengelompokkan (mendosentkan ) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif 4) Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.

Peta konsep sebagai alat ukur alternatif, seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan mahasiswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah satu-satunya alat ukur untuk menentukan keberhasilan mahasiswa. Tingkat keberhasilan mahasiswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam diperlukan alat ukur yang beragam. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur mahasiswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan mahasiswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja mahasiswa selama kegiatan. Menurut Tukman (dalam Sutowijoyo 2002:31) penilaian kinerja adalah penilaian yang meliputi hasil dan proses, yang biasanya menggunakan material atau suatu peralatan (equipment). Penilaian kinerja dapat digunakan terutama untuk mengukur tujuan pembelajaran yang tidak dapat diukur dengan baik bila menggunakan tes obyektif. Penilaian kinerja mengharuskan mahasiswa secara aktif mendemonstrasikan apa yang mereka ketahui. Yang paling penting, penilaian kinerja dapat memberi motivasi untuk meningkatkan pengajaran, pemahaman terhadap apa yang mereka perlu ketahui dan yang dapat mereka kerjakan. Berdasarkan teori belajar kognitif Ausubel, Novak dan Gowin (dalam Dahar, 1988: 143) menawarkan skema penilaian yang terdiri atas struktur hirarki, perbedaan progresif, dan rekonsiliasi integratif.

Struktur hierarkis, yaitu struktur kognitif yang diatur secara hierarki dengan konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang lebih inklusif, lebih umum, superordinat terhadap konsep-konsep dan proposisi-proposisi yang kurang inklusif dan lebih khusus. Perbedaan progresif menyatakan bahwa belajar bermakna merupakan proses yang kontinu, konsep-konsep baru memperoleh lebih banyak arti dengan bentuk lebih banyak kaitan-kaitan proporsional. Jadi, konsep-konsep tidak pernah tuntas dipelajari, tetapi selalu dipelajari, dimodifikasi, dan dibuat lebih inklusif. Rekonsiliasi integratif menyatakan bahwa belajar bermakna akan meningkat bila mahasiswa menyadari akan perlunya kaitan-kaitan baru antara kumpulan-kumpulan konsep atau proposisi. Dalam peta konsep, rekonsiliasi integratif ini diperlihatkan dengan kaitan-kaitan silang antara kumpulan-kumpulan konsep (Dahar,1988:162)

Selanjutnya Novak dan Gowin memberikan suatu aturan untuk mengikuti penilaian numerik jika skoring dipandang perlu. Pertama, skoring didasarkan atas preposisi yang valid. Kedua, untuk menghitung level hierarkis yang valid dan untuk menskor tiap level sebanyak hubungan yang dibuat. Ketiga, crosslink yang menunjukan hubungan valid antara dua kumpulan (segmen) yang berbeda adalah lebih penting daripada level hirarkis karena mungkin saja ini pertanda adanya penyesuaian yang integratif. Keempat, diharapkan mahasiswa dapat memberikan contoh yang spesifik dalam beberapa kasus untuk meyakinkan bahwa mahasiswa mengetahui peristiwa atau obyek yang ditunjukan oleh label konsep.

Jenis-jenis peta konsep menurut Nur (dalam Erman, 2003:24) peta konsep ada empat macam yaitu: pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).1) Pohon Jaringan. Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garis-garis itu (Nur dalam Erman 2003: 25)

Pohon jaringan cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: menunjukan informasi sebab-akibat, suatu hirarki, dan prosedur yang bercabang
Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan.

1) Rantai Kejadian. Nur (dalam Erman, 2003:26) mengemukakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.  Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal memerikan tahap-tahap suatu proses, langkah-langkah dalam suatu prosedur, dan suatu urutan kejadian.

2) Peta Konsep Siklus. Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.

3) Peta Konsep Laba-laba. Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama. Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal: a) Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori b) Kategori yang tidak paralel c) Hasil curah pendapat.

Proses mengajarkan strategi belajar digunakan dua pendekatan pengajaran utama, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran terbalik (Nur 2000b: 45). Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu mahasiswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Dalam melatihkan strategi belajar secara efektif memerlukan pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional tentang strategi-strategi belajar. Pengetahuan deklaratif tentang strategi-strategi tertentu termasuk bagaimana strategi itu didefinisikan, mengapa strategi itu berhasil, dan bagaimana strategi itu serupa atau berbeda dengan strategi-strategi lain. Mahasiswa juga memerlukan pengetahuan prosedural, sehingga mereka dapat menggunakan berbagai macam strategi secara efektif. Di samping itu juga menggunakan pengetahuan kondisional untuk mengetahui kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu.

Salah satu alasan menggunakan pengajaran langsung dalam mengajarkan strategi belajar adalah karena pengajaran langsung diciptakan secara khusus untuk mempermudah mahasiswa dalam mempelajari pengetahuan deklaratif dan prosedural yang telah direncanakan dengan baik serta dapat mempelajarinya selangkah demi selangkah (Arends dalam Nur (2000b:46). Pengajaran langsung yang diadaptasikan untuk mengajarkan strategi belajar, dan dilengkapi dengan teori yang mendukung sebagai landasan pelaksanaan pengajaran strategi belajar.

Tahap-tahap pengajaran langsung dalam melatihkan strategi belajar
Tahap 1

  1. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
  2. Memotivasi mahasiswa.

Tahap 2

  1. Secara klasikal menjelaskan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.
  2. Memodelkan strategi Mengarisbawahi dan membuat peta konsep.

Tahap 3

Melatihkan mahasiswa menggunakan strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep dibawah bimbingan dosen.

Tahap 4

1. Memeriksa pemahaman mahasiswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep

2. Memberi umpan balik hasil pemahaman mahasiswa terhadap strategi menggarisbawahi dan pemetaan konsep.

Tahap 5

Melatih mahasiswa untuk menerapkan strategi belajar menggarisbawahi dan membuat peta konsep secara mandiri.

Tahap 6

1. Mengevaluasi tugas latihan menggarisbawahi dan membuat peta konsep.

2. Membimbing mahasiswa untuk merangkum pelajaran

III.  PENUTUP

Berdasarkan pembahasan tersebut, ternyata perkembangan teknologi informasi menyebabkan terjadinya proses perubahan dramatis dalam pembelajaran jarak jauh di Indonesia. Hak tersebut agar kualitas pembelajaran menjadi lebih baik maka dapat disiasati dengan peta konsep baik pada mahsiswa maupun dosen agar ketika tutorial berlangsung kualitas pembelajaran dan hasil belajar menjadi lebih baik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi esensi konseptual materi, menulis konsep utama, menentukan konsep pendukung, menghubungan semua konsep pendukung dengan garis, menilai peta konsep, dan menggunakan penekanan tertentu. Adapun manfaat peta konsep dalam meningkatkan kualitas pembelajaran tutorial, yaitu fleksibel, memusatkan perhatian, meningkatkan pemahaman, dan pembelajaran akan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA

Armein Z. R. Langi. 2000. “Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Industri Teknologi Informasi dan Software di BHTV”, technical report, 2000.

Rahardjo, Budi.2000. “Pengembangan SDM Untuk Industri IT di BHTV”, materi presentasi.

Infokom. 2001. Rencana Kerja dan Anggaran, Divisi Engineering, Departemen Pengembangan Produk. Jakarta: PT. Infokom Elektrindo.

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/proposal-skripsi/pembelajaran-model-advance-organizer-dengan-peta-konsep-untuk-meningkatkan-ketun

http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/peta-konsep-untuk-mempermudah-konsep.html

http://xxx.itb.ac.id/~ycldav/, http://distance-courses.itb.ac.id/,

”Infrastruktur Pendidikan Jaraj Jauh”. http://re-searchengines.com/0807jelarwin.html

Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh.”, Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG, Januari 2002.

Natakusumah, E.K., “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.”, Pusat Penelitian informatika – LIPI Bandung, 2002.

Vivian, Neuou.1994. Internet CD. STI International

Prayoto. “Menyoal Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia”, Fakultas Teknik UNIKOM, 2002 Bandung

Indrajit, Richardus Eko. “Evolusi Perkembangan Teknologi Informasi”, Renaissance Research Centre

Sistem Pendidikan Jarak Jauh”. http://mun4zahra.wordpress.com/2009/03/11/tutorial-menyusun-ptk/

Sujianto.”Penggunaan Media Pada Pengajaran Matematika”. http://pkab.wordpress.com/2008/06/12/penggunaan-media-pada-pengajaran-matematika/

Tim Koordinasi Telematika Indonesia. “Kerangka Teknologi Informasi Nasional”, Jakarta, Februari 2001.

Ward, John. 1996. Strategic Planning for Information System. ISBN: 0-471-96183-3. John Wiley & Sons, Inc. 1996.

Leave a comment »

UPAYA MENUMBUHKAN NILAI DAN SIKAP KEBANGSAAN MELALUI PENGAJARAN SASTRA BERBASIS E-LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT BLOG WORDPRESS.COM

Tulislah kritik puisi berikut ini minimal satu paragraf berdasarkan nilai dan sikap kebangsaan yang apresiatif! Puisi berikut merupakan kelanjutan dari penelitian Bapak yang di atas. Bapak tunggu ya komentarnya. Sebelumnya, Bapak sampaikan terima kasih.

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

Comments (3) »

UPAYA MENUMBUHKAN NILAI DAN SIKAP KEBANGSAAN MELALUI PENGAJARAN SASTRA BERBASIS E-LEARNING DENGAN MENGGUNAKAN PERANGKAT BLOG WORDPRESS.COM

Bapak sekarang sedang melakukan penelitian berdasarkan judul tersebut di atas. Mohon kepada Ananda semua yang sudah Bapak hubungi melalui emailnya agar menulis komentar yang apresiatif mengenai puisi berikut ini berdasarkan sikap dan nilai kebangsaan yang kalian miliki. Kritik tersebut minimal satu paragraf. Berikut puisinya.

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Comments (2) »

media menyimak berita

MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

PENTINGNYA KETERAMPILAN MENYIMAK

BAGI MAHASISWA SEBAGAI CALON GURU:

SEBUAH TINJAUAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Oleh

Arono, M.Pd.

Walaupun setiap manusia normal dilengkapi dengan potensi menyimak, belum tentu setiap orang menjadi penyimak yang baik. Begitu pula dengan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu dituntut menjadi penyimak yang baik karena dapat berpengaruh terhadap keberhasilan belajaranya sebagai calon guru. Lestening may be golden yang berarti dari menyimak itu kita akan memperoleh hal-hal yang bernilai tinggi, berharga, dan berguna.

Pengalaman penulis sebagai pengampu mata kuliah Menyimak diketahui bahwa kegiatan menyimak yang terencana dalam proses pembelajaran masih jarang penulis lakukan. Kegiatan yang dialakukan adalah pembahasan materi yang berhubungan dengan Menyimak lebih dominan daripada praktiknya. Kalaupun ada praktiknya mahasiswa hanya mendengarkan tentang lagu atau dibacakan wacana, mahasiswa diminta untuk menyimak dengan saksama. Setelah dosen selesai memperdengarkan bahan simakan, mahasiswa diminta untuk mengutarakan kembali secara lisan bahan yang disimaknya. Karena alasan waktu yang terbatas, tuntutan materi Menyimak, dan media simakan baik langsung atau tidak yang kurang memadai, mahasiswa yang mendapat kesempatan mengutarakan isi simakan hanya dua atau tiga orang. Kegiatan tersebut tidak dilanjutkan dengan kegiatan lebih jauh seperti mendiskusikan materi simakan dan mengecek pemahaman mahasiswa. Dengan demikian, tidak ada proses “meyiapkan” mahasiswa dalam kegiatan pramenyimak serta tidak dilakukan kegiatan analisis dan koreksi. Itu berarti secara teoretis menyimak mahasiswa dapat diandalkan, tetapi secara praktiknya masih jauh dari harapan sebagai calon guru dalam penerapan keterampilan menyimak bagi diri dan siswa nantinya.

Dalam kegiatan sehari-hari baik di dalam kegitan pembelajaran maupun di luar, mahasiswa lebih banyak berurusan dengan kegiatan menyimak dibandingkan dengan kegiatan berbahasa lainnya terutama dalam menyimak aktif reseptif. Dapat dikatakan mulai bangun tidur sampai menjelang tidur, manusia termasuk mahasiswa itu berhubungan dengan menyimak. Segala informasi baik berupa ilmu maupun ide yang diterima mahasiswa pada umumnya melalui proses menyimak ini. Seperti yang dikatakan Wilt (dalam Tarigan, 1990:11) 42% waktu penggunaan bahasa tertuju pada menyimak. Dengan demikian, kemampuan menyimak seyogyanya dimiliki oleh mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu.

Kemampuan menyimak manusia sangat terbatas. Manusia yang sudah terlatih baik dan sering melaksanakan tugas-tugas menyimak, disertai kondisi fisik dan mental yang prima, hanya dapat menangkap isi simakan maksimal 50% (Tarigan, 1990:26) Padahal diharapkan mahasiswa sebagai calon guru memiliki bekal dalam meyerap ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, di samping kemampuan berbicara, membaca, dan menulis, kemampuan menyimak pun sangat penting dimiliki dalam upaya mereka menyerap informasi (Chamadiah dkk., 1987:5). Sejalan dengan itu, KTSP menyebutkan bahwa salah satu aspek yang harus ada dalam pembelajaran baik di tingkat SMP/SMA adalah aspek menyimak/mendengarkan, selain dari berbicara, membaca, dan menulis. Keempat ini merupakan catur tunggal pada setiap pelaksanaan pembelajaran dilakukan (Depdiknas, 2006). Hal itu akan menjadi sia-sia jika mahasiswa sebagai calon guru tidak dibekali dan mengalami bagaimana upaya meningkatkan kemampuan menyimak itu sendiri pada diri mahasiswa tersebut.

Dalam kaitan dengan kemampuan menyimak ini, Chamdiah dkk. (1987:3) menyatakan bahwa siswa harus mampu mengingat fakta-fakta sederhana, mampu menghubungkan serangkaian fakta dari pesan yang didengarnya, dan menafsirkan makna yang terkandung dalam pesan lisan yang didiengarnya. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Tarigan (1990:58) menyimak bukan hanya sebatas mendengar (hearing) saja, tetapi memerlukan kegiatan lainnya yakni memahami (understanding) isi pembicaraan yang disampaikan oleh si pembicara. Lebih jauh lagi diharapkan dalam menafsirkan (interpreting) butir-butir pendapat yang disimaknya baik tersurat maupun yang tersirat. Kegiatan selanjutnya dalam proses menyimak adalah kegiatan mengevaluasi (evaluating). Pada kegiatan ini si penyimak menilai gagasan baik dari segi keunggulan maupun dari segi kelemahannya. Kegiatan akhir yakni menanggapi (responding). Pada tahap akhir ini penyimak menyembut, mencamkan, menyerap, serta menerima gagasan yang dikemukakan oleh sipembicara.

Pada sisi lain, kemampuan menyimak barulah dapat dikuasai setelah yang bersangkutan mengalamai latihan-latihan menyimak yang terarah, berencana, dan berkesinambungan. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan menyimak mahasiswa tersebut ialah melalui proses pembelajaran menyimak.  Akan tetapi, menurut Kencono (dikutip  Chamadiah dkk. 1987:3) pembelajaran menyimak di perguruan tinggi ataupun di sekolah sering “dianaktirikan” atau sedikit sekali mendapat perhatian. Padahal, kemampuan meyimak sangat penting sebagai dasar penguasaan suatu bahasa.

Berdasarkan fakta tersebut, wajar saja bahwa kemampuan menyimak mahasiswa tahun 2006 masih kurang dengan nilai rata-rata 5,5 (Tes awal tahun 2006). Hal senada  berdasarkan penelitian terhadap kemampuan menyimak mahasiswa di DKI Jakarta oleh Chamadiah dkk. (1987) juga masih kurang yaitu nilai rata-rata 5,8. Dilihat berdasarkan penelitian siswa yang pernah dilakukan tampaknya tidak terlalu jauh nilai rata-rata kemampuannya. Seperti yang dilakukan Nurhayati (2001) terhadap siswa SLTPN 1 Inderalaya dalam tes awalnya nilai rata-rata hanya 5,4. Begitu juga dengan Syafrin (1995), Milyan (1997), Hartati (1999), dan Nengsi (2001) dengan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa cukup.

Menyimak sebagai proses kegiatan mendengar lambang-lambang lisan dengan penuh pengertian, pemahaman, dan apresiasi serta informasi, menangkap isi dan memahami makna komunikasi yang disampiakan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 1990:28). Berdasarkan hal tersebut, menyimak berarti adanya keterlibatan proses mental, mulai dari proses mengidentifikasi bunyi, pemahaman dan penafsiran, serta penyimpanan hasil pemahaman dan penafsiran bunyi yang diterima dari luar.

Berdasarkan hal tersebut, dalam menyimak diperlukan suatu kemampuan khusus. Kemampuan ini berarti kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan (Poerwadarminta, 1984:628). Menyimak dapat juga diartikan sebagai memperhatikan baik-baik yang diucapkan atau dibaca orang (Pusbinbangsa, 1988:840). Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat dirumuskan kemampuan menyimak itu adalah kemampuan, kesanggupan, kecakapan, siswa menerima dan memahami apa yang diucapkan atau dibaca orang lain. Urias (1987:21) juga memperjelas bahwa kemampuan menyimak merupakan proses belajar mengajar dan pembentukan kebiasaan yang terus-menerus. Seperti yang kemukakan Bloom yang berhubungan dengan aspek kognitif di dalam menyimak dapat berupa kemampuan menyimak tingkat ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi (Nurgiantoro, 1995:237).

Kegitan menyimak yang baik menyangkut sikap, ingatan, persepsi, kemampuan membedakan, intelegensi, perhatian, dan motivasi yang harus dikerjakan secara integral dalam tindakan yang optimal pada saat kegiatan menyimak berlangsung baik menyimak intensif maupun ekstensif. Menyimak intensif adalah menyimak yang diarahkan pada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol pada suatu hal tertentu baik dari program pengajaran bahasa maupun pemahaman serta pengetahuan umum secara kritis, konsentratif, kretaif, eksploratif interogatif, dan selektif, berbeda dengan menyimak  ekstensif. Untuk melaksanakan dan mengoptimalkan kemampuan menyimak mahasiswa tersebut, salah satu pendekatannya adalah pendekatan kontekstual.

Pembelajaran kontekstual (Contectual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu dosen mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata mahasiswa dan mendorong mahasiswa membuat hubungan antara penetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya pada kehidupan mereka sebagai calon guru. Adapun kata kunci CTL ini adalah real word learning, mengutamakan pengalaman nyata, mahasiswa aktif, kritis dan kreatif, pengetahuan berpusat pada mahasiswa, pengetahuan bermakna dalam kehidupan yang dekat dengan kehidupan yang nyata, terjadi perubahan perilaku, mahasiswa praktik bukan menghapal, learning bukan teaching dan pendidikan bukan pengajaran, pembentukan manusia, memecahkan masalah, mahasiswa acting guru mengarahkan, dan hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya melalui tes. Dengan cara ini kemampuan menyimak mahasiswa dapat ditingkatkan.

Ada tujuh prinsip pendekatan kontekstual, yaitu konstruktivisme (pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas), menemukan (pengalaman sendiri), bertanya (mendorong, membimbing, dan menilai dalam menggali, mengonfermasi, dan mengarahkan baik antarmahasiswa, dosen dengan mahasiswa, mahasiswa dengan dosen maupun mahasiswa dengan orang lain yang didatangkan dalam pembelajaran/narasumber masyarakat belajar (kerjasama), pemodelan, refleksi, (respon terhadap kejadian/aktivitas), dan penilaian yang sebenarnya (Depdiknas, 2003:11-12).

Untuk meningkatkan kemampuan menyimak mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Bengkulu, dapat dilaksanakan pembelajaran kontekstual dengan menghendaki proses pramenyimak, rekonstruksi, analisis, dan koreksi dengan tidak mengabaikan tahapan proses menyimak yaitu tahap mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi, memahami, menilai, dan menanggapi. Kegiatan rekonstruksi dan analisis serta koreksi dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses tersebut.  Adapun bahan simakan yang bisa diperdengarkan yaitu bahan simakan berupa berita di radio maupun di televisi, musikalisasi puisi, puisi, lagu yang puitis, cerpen, sinopsis novel, dan percakapan serta kemampuan kebahasaan dan sastra lainnya.

Jika hal tersebut sudah dilakukan dengan baik, baik secara teoretis maupun pratiknya, mahasiswa akan dapat meningkatakan kemampuan menyimaknya dengan baik serta mengembangkan diri dalam pembelajaran di sekolah nantinya. Selain itu, mahasiswa harus mendapat bimbingan dosen dan tenaga pendidikan yang lain untuk dapat berpikir dengan cerdas, membentuk perilakunya, memilah dan memilih, serta membangun pribadinya sehingga suatu saat menjadi guru yang profesional pada bidangnya. Amin.

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.